Recent Posts

Pages: 1 2 3 [4] 5 6 ... 9
31
General Discussion / Re: Topik 6 Toward a Definition of Learning Experience Design
« Last post by wandaramansyah on September 29, 2021, 03:29:17 am »
pak idi sehati dengan saya hehehhe... top pak idi.. selama ini kita menghakimi siswa tidak mampu belajar padahal sudah kita buatkan media yang super wah... lhaa ternyata penyebabnya ya dari media kita itu sendiri lho pak.. alat ini memang alat sakti pak idi.. saya juga baruuuu aja tau dari jurnal ini, terima kasih banyak untuk pak henry...
alatnya bisa dibeli online pak, ada juga mgkn di toko komputer yg mapan.. harga kisaran 4 juta-an pak idi.. ada dua model yang saya tau, model seperti bar/pipa panjang dan model kacamata yg langsung bisa dipakai mahasiswa/pengguna..
32
General Discussion / Re: Topik 6 Toward a Definition of Learning Experience Design
« Last post by wandaramansyah on September 29, 2021, 03:26:03 am »
pada bu ALing

nah betul kan perasaan saya sama dengan teman2 termasuk bu aling, itulah bu saya juga penasaran dengan tombol itu, apakah dengan menekan tombol itu semua berakhir? tidak bisa kembali? tidak bisa mengubah atau merevisi jawaban? atau setelah tekan tombol malah jawaban hilang... penelitian ini memang diuji pada mahasiswa yang belum pernah sama sekali menggunakan aplikasi ini bu, jadi sangat wajar kekhawatiran itu ada, menurut saya saat sudah menggunakan secara total minimal 2 kali maka kekhawatiran akan hilang.
tentang avatar bu, ya kembali karena avatar itu baru pertama mereka jumpai, baru pertama mereka lihat, jadi menurut saya wajar jadi bikin penasaran hehee.. mgkn jika avatar diganti foto guru nya yang sudah familier maka mahasiswa tidak akan terpaku lama pada foto itu, ya kembali lagi sih klo foto gurunya dengan ekspresi aneh atau tidak biasa ya menjadi masalah lagi  :D
33
General Discussion / Re: Topik 6 Toward a Definition of Learning Experience Design
« Last post by wandaramansyah on September 29, 2021, 03:20:59 am »
kepada bu atin
mengomentari terkait tatapan siswa yang lebih sering pada "submit your answer", menurut saya itu terjadi karena "submit your answer" merupakan diksi yang mencekam bagi siswa, sekiranya peneliti menggunakan diksi yang lebih ramah dan humanis, misal "lets continue" atau "next step" atau diksi lainnya bisa jadi akan lebih membuat tatapan matanya tidak selalu tertuju ke titik ini.

wah ini membuka wacana saya bu,,, terima kasih dan saya setuju,,, kalimat atau kata yang sifatnya ramah dan humanis tanpa menyudutkan   :)
34
gamification selalu menarik untuk dibahas pak fajar, saya setuju... memang ini bisa kita gunakan sebagai salah satu senjata untuk menarik perhatian siswa untuk belajar. Namun menurut saya kita tetap harus waspada, sampai saat ini saya masih belum ahli membuat game edukasi, terutama dalam mengukur tingkat kemenarikannya. Jika terlalu menarik mana imbasnya game edukasi hanya menjadi hiburan untuk siswa, tapi jika tidak menarik maka bisa menjadi game edukasi yang membosankan. Nah mengukur di tengah2 ini yang menjadi tantangan bagi kita sebagai pendidik, tentu saja lebih menantang lagi karena beragamnya karakter siswa yang menggunakan game tersebut.. Tapi tetap seru pak untuk digali... hehehe..
35
mantap pak idi... tentu saja apresiasi yang tinggi saya berikan untuk guru-guru modern yang sudah menciptakan teknologi-teknologi adaptif dalam memfasilitasi belajar siswa abad 21 ini. Menurut saya teknologi adaptif juga harus diimbangi dengan mindset adaptif siswa sebagai pengguna. Nah memang PR kita bersama bagaimana mengubah mindset siswa kita dalam belajar, bagaimana mengubah dari pasif ke arah belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, mengubah mindset bahwa peran siswa menjadi utama dalam belajar, belajar tidak seperti orang tua yang menyuapi anaknya, dan anaknya pasrah menanti suapan orang tua, siswa adalah pengemudi mobil, bukan penumpang mobil (guru jadi supir). Akan luar biasa saat mindset sudah berubah aktif dan diiringi dengan teknologi adaptif yang beragam. 
36
jauh berbeda dengan pembelajaran matematika di SD kelas tinggi, SMP, dan SMA menurut pengalaman saya bu, dari penjelasan bu atin tampak jelas tidak ada unsur "horor" dalam belajar matematika, matematika dipelajari dengan cara yang menyenangkan dengan gambar lucu, cerita menarik, dan nyaris tanpa tekanan. Beda saat belajar matematika saat dirasa matematika adalah momok dengan anggapan sebagai pelajaran yang sulit, penuh hukuman, ditambah kondisi kelas yang mencekam, hehehe... udah kayak film horor... harapan saya semoga model belajar seperti ini dapat diteruskan ke tingkat atau level lebih tinggi, tentunya disesuaikan dengan tingkat kedewasaan siswa.
37
ijin melanjutkan ya bu aling, saya terinspirasi juga oleh pak fajar, yang perlu diperhatikan adalah bahwa LMS harus disesuaikan dengan karakter dan gaya belajar siswa/mahasiswa/pengguna. Bagaimana caranya LMS harus familier dengan beragam karakter siswa baik siswa yang sudah permah menjalankan LMS atau siswa yang benar-benar baru bertemu LMS, sajian LMS juga harus memenuhi kebutuhan dari gaya belajar siswa, baik siswa yang auditori, visual, maupun kinestetik.
38
halo bu khoir, tolong pendapat saya dikoreksi jika kurang tepat nggih, menurut saya hambatan yang dialami perempuan dalam pembelajaran matematik dibanding laki-laki adalah karena perempuan lebih menggunakan perasaan sedangkan laki-laki lebih menggunakan logika. Jika perempuan di dalam kondisi tertekan maka perasaannya tidak akan sekuat laki-laki, perasaan dalam hati ini yang akan menimbulkan efek cemas, takut, khawatir berlebihan, dsb yang secara psikologis berimbas kepada kemampuan belajarnya. 
39
Bu Liya, ada yang menarik perhatian saya mengenai achievement prediction. Pada paper ini apa menjelaskan lebih detail mengenai metode yang digunakan untuk memprediksi prestasi learner? apakah prediksi yang dimaksud disini LMS dapat mengetahui bahwa seoarang learners itu Lulus/tidak lulus sebelum menyelesaikan sebuah pembelajaran?
40
halo bu vita, minta ijin untuk diberi pencerahan lebih lanjut terkait bahwa pembelajaran berdiferensiasi mempunyai tantangan tersendiri, menurut saya tantangan itu juga bersumber dari karakter dan gaya belajar tiap karyawan. Mungkin ada ketidakcocokan gaya belajar dengan lingkungan belajarnya bu. itu pendapat saya..
Pages: 1 2 3 [4] 5 6 ... 9