Recent Posts

Pages: [1] 2 3 ... 9
1
untuk ibu Khoiriyah,

ya ibu. itulah kekuatan transmedia yang didesain sedemikian rupa untuk menarik perhatian anak agar tidak jenuh dengan aktivitas pembelajarannya, apalagi terkait mat apelajaran matematika yang dipandang sulit dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari karena hanya sekumpulan angka-angka. ternyata jika dikemas dalam bentuk naratif, tak ubahnya seperti kita sedang menonton film yang kita sukai. ;)
2
kalau dari perspektif ilmu filsafat, logika dan bahasa juga harus diperhitungkan ya bu cyly....dalam mengemas konten atau materi pembelajaran yang adaptif terhadap karakteristik siswa. kalau jumlah siswanya sedikit, pendidik bisa jadi dapat melakukan need analysis terkait karakter anak tersebut. bagaimana jika di Indonesia, rerata pendidik memiliki rombel dan jumlah siswa masing-masing rombel di kisaran dari 30-40 siswa. waah berat sekali tugas menjadi pendidik. tapi semoga dapat menajdi amal jariyah  ;)

kita tahu gaya belajar anak beragam, anak dengan gaya belajar auditory mungkin akan lebih nyaman dengan metode ceramah, tapi tentu matematika kurang efektif jika disampaikan dengan metode ceramah. inilah chalenge untuk pendidik masa depan, pemanfaatan media adaptif seolah menjadi suatu keharusan untuk menjawab tantangan tersebut.
3
Terima kasih pak Idy atas respon yang diberikan. Saya sependapat dengan pernyataan pak Idy bahwa LMS dapat dirancang untuk  mempercepat pembelajaran atau acceleerasi. Melalui sistem seperti modul, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya.
Karena pada prinsipnya LMS untuk pembelajaran mandiri, maka siswa yang menentukan sendiri program atau bahan pembelajaran yang akan mereka pelajari.
Pertanyaan pak Idy relevan dengan hasil penelitian yang disampaikan pada artikel ini bahwa Learnes mengharapkan beberapa fitur yang dapat mereka gunakan untuk memprediksi kemampuan belajar mereka salah satunya Achievement Prediction, yang sebelumnya juga menjadi pertanyaan Pak Fajar. Dan memang fitur ini sudah tersedia dalam LMS 3.0 yang digunakan dalam penelitian ini.  Namun terkait pemanfataannya seperti apa fitur Achievement Prediction ini tidak dijelaskan lebih dalam dalam artikel ini. Tapi kalo menurut saya, dalam fitur ini sistem akan memberikan report atau hasil terhadap aktivitas pembelajaran yang dilakukan siswa sehingga mereka bisa memprediksi kemampuan mereka terhadap materi yang sedang dipelajari. Jika mereka merasa lemah terhadap materi tersebut, mereka akan mendalami materi secara mandiri sebelum melanjutkan pada materi yang lebih sulit. Kurang lebih demikian pak Idy yang bisa saya sampaikan :)
4
Untuk Pak Fajar, dalam artikel ini memang menyampaikan bahwa fitur Achievement Prediction yang diharapkan oleh Learner sudah tersedia dalam LMS 3.0 ini. Namun untuk pengaplikasiannya seperti apa khusus untuk fitur ini tidak dijelaskan lebih lanjut. Tapi menurut analisa saya, fitur Achievement Prediction ini mungkin seperti report yang diberikan oleh sistem terhadap aktivitas pembelajaran yang dilakukan learners, sehingga learners bisa memperkirakan bahwa mereka membutuhkan pendalaman pada materi tertentu yang dirasa lemah bagi mereka dan bisa mengulangnya secara mandiri sebelum mereka melanjutkan pada materi yang lebih sulit. Mungkin itu penjelasan dari saya Pak Fajar, sebelumnya terima kasih atas respon yang diberikan :)


Untuk Pak Wanda, saya juga merasakan demikian pak
 ketika menggunakan LMS. Namun sebenarnya sesama Learners ini berada dalam satu ruang maya yang sama walaupun dalam waktu yang berbeda sehingga rasanya kita tidak bisa melihat teman kita satu sama lain. Berbeda kalo kita menggunakan video conference kita bisa saling bertatap maya. Untuk LMS ini penggunaannya memang untuk pembelajaran mandiri. Dan dalam menu di LMS sebenarnya sudah ada fitur untuk dapat melakukan kolaborasi seperti Forum Diskusi, kemudian (nama fiturnya apa saya kurang paham, mohon maaf  ;D) Penyelesaian Proyek Bersama, dll. Namun memang belum bisa dimanfaatkan secara maksimal karena selama ini LMS lebih banyak pada aktifitas pengumpulan tugas sehingga koneksinya hanya terbatas siswa-LMS-guru. Nah masukan pak Wanda ini baik sekali bahwa semestinya koneksi yang dibangun di LMS ada interaksi Learner-LMS-Teacher-Leaners. Jadi mungkin tugas kita sebagai pendidik untuk mengkonsep bagaimana penyajian pembelajaran di LMS agar konektivitasnya tidak hanya Learners dan LMS itu sendiri. Terima kasih pak Wanda atas respon dan masukan yang diberikan :)
5
Dear Pak Idi,
Saya sangat setuju dengan pak Idi bahwalaki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam belajar, akan tetapi gaya belajar, strategi belajar, motivasi belajar berbeda-beda. Sehingga kita sebagai pendidik setidaknya dapat memilih model atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa kita sehingga tujuan pembelajaran yang kita rencanakan akan tercapai. Pada penelitian ini fokus pada Female. mungkin nanti kita bisa meneliti dengan topik yang sama tapi subyek nya berbeda. Mohon maaf pak Idi jika kurang berkenan, trimakasih 
6
Dear pk Fajar,
Self-Regulated learning merupakan suatu konsep mengenai bagaimana siswa menjadi pengelola dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya,  dimana siswa dapat  mengaktifkan  dan mendorong pemikiran, perasaan, dan tindakan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan dalam belajarnya. Sehingga siswa dapat menempatkan dirinya  untuk belajar disiplin mengatur dan mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi tugas-tugas yang sulit,instruksi-instruksi yang diberikan oleh gurunya. untuk itu menurut saya Self-regulated learning ini sangat erat hubungannya dengan motivasi. Dalam belajar mandiri yang perlu diperhatikan adalah faktor motivasi baik dari dalam maupun dari luar. Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar mandiri dapat kita lakukan dengan cara: memberikan penilaian terhadap tugas-tugas yang dikumpulkan oleh siswa sebagai bentuk apresiasi kita bahwa mereka sudah selesai mengerjakan tugasnya; memberikan reward sebagai bentuk apresiasi jika mereka telah semangat mengikuti proses pembelajaran; memberikan pujian sebagai bentuk bahwa mereka berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Ini penjelasan saya pak. mhn maaf jika kurang berkenan. trimakasih   
7
mungkin kita termasuk siswa yang punya pengalaman "mengerikan" di mapel matematika ya pak  :D

betul pak, kita perlu belajar mengimplementasikan materi ajar yang kontekstual, agar peserta didik merasakan membutuhkan ilmu tersebut. model pembelajaran problem based learning juga saat ini sedang menjadi komoditi hangat para praktisi pendidikan(termasuk kita  :)) agar dapat memicu "curriousity"  atau rasa ingin tahu/rasa penasaran peserta didik.

nah, modelnya bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kondisi kelas..sedangkan untuk medianya harus yang adaptif. karena kita tidak bisa paksakan dan perlakukan anak dengan rekognisi masa lampau yang berbeda dengan treatment yang sama.

wallahu'alam bishawab... :)

Setuju, kita manfaatkan rasa ingin tahu siswa untuk meningkatkan belajarnya. Tentunya guru harus mengarahkan dan bisa jadi mengarahkan rasa ingin tahunya agar masih dalam jalur belajar yang benar
8
pak idi sehati dengan saya hehehhe... top pak idi.. selama ini kita menghakimi siswa tidak mampu belajar padahal sudah kita buatkan media yang super wah... lhaa ternyata penyebabnya ya dari media kita itu sendiri lho pak.. alat ini memang alat sakti pak idi.. saya juga baruuuu aja tau dari jurnal ini, terima kasih banyak untuk pak henry...
alatnya bisa dibeli online pak, ada juga mgkn di toko komputer yg mapan.. harga kisaran 4 juta-an pak idi.. ada dua model yang saya tau, model seperti bar/pipa panjang dan model kacamata yg langsung bisa dipakai mahasiswa/pengguna..

Siap Pak Wanda, perlu dicoba untuk mengevaluasi LMS yang sudha kita buat agar lebih maksimal dalam penggunaannya. Bikin penasaran saja, katanya orang IPA ada semboyan "aku Coba, Aku Bisa. Mari kota coba.
9
mantap pak idi... tentu saja apresiasi yang tinggi saya berikan untuk guru-guru modern yang sudah menciptakan teknologi-teknologi adaptif dalam memfasilitasi belajar siswa abad 21 ini. Menurut saya teknologi adaptif juga harus diimbangi dengan mindset adaptif siswa sebagai pengguna. Nah memang PR kita bersama bagaimana mengubah mindset siswa kita dalam belajar, bagaimana mengubah dari pasif ke arah belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, mengubah mindset bahwa peran siswa menjadi utama dalam belajar, belajar tidak seperti orang tua yang menyuapi anaknya, dan anaknya pasrah menanti suapan orang tua, siswa adalah pengemudi mobil, bukan penumpang mobil (guru jadi supir). Akan luar biasa saat mindset sudah berubah aktif dan diiringi dengan teknologi adaptif yang beragam.

Betul sekali Pak Fajar, perubahan mindset itu yang penting sebelum mereka memiliki self regulation untuk dapat belajar mandiri, menentuka target belajar sendiri danmemeuhi target dengan baik. Namun kita perlu mencoabakan terlebih dahulu. Untuk mindet sambil jalan diperbaiki dan dibangun.   
10
pada artikel tersebut dikatakan bahwa mahasiswa belajar sesuai dengan keinginannya sendiri tidak ada target dari dosennnya. menurut pengalaman saya jika mahasiswa tidak diberi target oleh dosen banyak mahasiswa yang tidak belajar sesuai yang diharapkan dosennya karena dengan latar belakang dan motivasi mahasiswa yang berbeda-beda. apakah di artikel tersebut dijelaskan bagaimana cara mengendalikan mahasiswa agar termotivasi untuk belajar sesuai dengan keinginannya?

Betul Bu Khoir, dosen tidak mentarget tetapi mahasiswa sendiri yang menetukan targetnya. Tentunya dosen akan membimbing jika ada mahasiswa yang mentargetkan lebih rendah misalnya.Jadi campur tangan dari dosen masih diperlukan untuk kasus tertentu. Harapannya memang ketika mahasiswa sendiri yang mennetukan targetnya maka mereka merasa memiliki dan beresamangat untuk mengerjakan sesuai dengan targetnya
Pages: [1] 2 3 ... 9