Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - idi_rathomy_baisa

Pages: [1]
1
mungkin kita termasuk siswa yang punya pengalaman "mengerikan" di mapel matematika ya pak  :D

betul pak, kita perlu belajar mengimplementasikan materi ajar yang kontekstual, agar peserta didik merasakan membutuhkan ilmu tersebut. model pembelajaran problem based learning juga saat ini sedang menjadi komoditi hangat para praktisi pendidikan(termasuk kita  :)) agar dapat memicu "curriousity"  atau rasa ingin tahu/rasa penasaran peserta didik.

nah, modelnya bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kondisi kelas..sedangkan untuk medianya harus yang adaptif. karena kita tidak bisa paksakan dan perlakukan anak dengan rekognisi masa lampau yang berbeda dengan treatment yang sama.

wallahu'alam bishawab... :)

Setuju, kita manfaatkan rasa ingin tahu siswa untuk meningkatkan belajarnya. Tentunya guru harus mengarahkan dan bisa jadi mengarahkan rasa ingin tahunya agar masih dalam jalur belajar yang benar

2
pak idi sehati dengan saya hehehhe... top pak idi.. selama ini kita menghakimi siswa tidak mampu belajar padahal sudah kita buatkan media yang super wah... lhaa ternyata penyebabnya ya dari media kita itu sendiri lho pak.. alat ini memang alat sakti pak idi.. saya juga baruuuu aja tau dari jurnal ini, terima kasih banyak untuk pak henry...
alatnya bisa dibeli online pak, ada juga mgkn di toko komputer yg mapan.. harga kisaran 4 juta-an pak idi.. ada dua model yang saya tau, model seperti bar/pipa panjang dan model kacamata yg langsung bisa dipakai mahasiswa/pengguna..

Siap Pak Wanda, perlu dicoba untuk mengevaluasi LMS yang sudha kita buat agar lebih maksimal dalam penggunaannya. Bikin penasaran saja, katanya orang IPA ada semboyan "aku Coba, Aku Bisa. Mari kota coba.

3
mantap pak idi... tentu saja apresiasi yang tinggi saya berikan untuk guru-guru modern yang sudah menciptakan teknologi-teknologi adaptif dalam memfasilitasi belajar siswa abad 21 ini. Menurut saya teknologi adaptif juga harus diimbangi dengan mindset adaptif siswa sebagai pengguna. Nah memang PR kita bersama bagaimana mengubah mindset siswa kita dalam belajar, bagaimana mengubah dari pasif ke arah belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, mengubah mindset bahwa peran siswa menjadi utama dalam belajar, belajar tidak seperti orang tua yang menyuapi anaknya, dan anaknya pasrah menanti suapan orang tua, siswa adalah pengemudi mobil, bukan penumpang mobil (guru jadi supir). Akan luar biasa saat mindset sudah berubah aktif dan diiringi dengan teknologi adaptif yang beragam.

Betul sekali Pak Fajar, perubahan mindset itu yang penting sebelum mereka memiliki self regulation untuk dapat belajar mandiri, menentuka target belajar sendiri danmemeuhi target dengan baik. Namun kita perlu mencoabakan terlebih dahulu. Untuk mindet sambil jalan diperbaiki dan dibangun.   

4
pada artikel tersebut dikatakan bahwa mahasiswa belajar sesuai dengan keinginannya sendiri tidak ada target dari dosennnya. menurut pengalaman saya jika mahasiswa tidak diberi target oleh dosen banyak mahasiswa yang tidak belajar sesuai yang diharapkan dosennya karena dengan latar belakang dan motivasi mahasiswa yang berbeda-beda. apakah di artikel tersebut dijelaskan bagaimana cara mengendalikan mahasiswa agar termotivasi untuk belajar sesuai dengan keinginannya?

Betul Bu Khoir, dosen tidak mentarget tetapi mahasiswa sendiri yang menetukan targetnya. Tentunya dosen akan membimbing jika ada mahasiswa yang mentargetkan lebih rendah misalnya.Jadi campur tangan dari dosen masih diperlukan untuk kasus tertentu. Harapannya memang ketika mahasiswa sendiri yang mennetukan targetnya maka mereka merasa memiliki dan beresamangat untuk mengerjakan sesuai dengan targetnya

5
Pak Idi, Jika mahasiswa diberikan kebebasan untuk mempelajari bahan ajar sesuai dengan keinginannya (tanpa ada target-target tertentu), apakah tidak berisiko mahasiswa justru tidak melakukan apa2. karena motivasi dan latar belakang mahasiswa berbeda. ada yang sudah dewasa namun memang ada yang masiih memerlukan arahan2.

Betul Pak Fajar, mahasiswa tetap ada target. Ketika mereka merancang studinya dan memiliki bahan belajarnya disertai pula dengan target yang harus mereka selesaikan. Prinsipnyameereka menentukan sendiri materi belajarnya sekaligus target hasilnya dan juga awaktu pengumpulannya.

6
Menurut saya perempuana dan laki-laki memang memilik hak yang sama dalam meneri kesmpatan belajarn dengan baik. Namun memang kemampuan awal dan kompetesi anak permepuand an laki-laki terkadang berebda. Tetapi tidak selalu ada kecenderungan bahwa perempuan lebih rajin daripada laki-laki atau sifat khas lainnya. Oleh karena itu menurut saya perlakuan  kesemptan belajar harus sama tetapi kita melihat perbedaannya dari kemampuan siswa untuk dapat membedakan model pembelajaran yang akan kita terapkan.

7
Sangat menarik jika kita berdiskusi tentang LMS di saat ini. LMS menajdi salah satu solusi baik dalam mengatasi permasalahan sekolah/kuliah di amsa pandemi covid-19.  Namun dilapangan seringkali LMS hanya digunakan sebagai sarana penunjag terselenggaranya pembelajaran jarak jauh dengan emmanfaatkan IT. Padahal di dalam LMS banyak sekali fitur yang dapat digunakand an dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa. Satu diantaranya dengan LMS kita dapat merancang pembelajaran dipercepat atau acceleerasi. Melalui sistem seperti modul, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya. Siswa dapat melanjutkan materi pelajarannya jika mereka mampau menyelesaikan dan menuntaskan tes akhir Bab misalnya. Mereka tidak harus menunggu seluruh siswa menuntaskan materi pelajarannya. Guru/dosen biasanya memberikakn materi secara klaasikal dan bersamaan untuk semua kemampuan siswa tanpa memberika kesempatan yang berpotensi tinggi dapat lebih cepat belajarnya.
Apakah dalam penelitian tersebut terdapat aspek pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan belajar peserta didik?

8
Sangat setuju, portofolio memang bukti otentik hasil belajar siswa, Melalui portofolio itu tergambar kompetensi siswa apalagi jika portofolio itu dikembangkan sesuai dengan keinginan mahasiswa/ssiwa karena dapat mengembangkan kreativitasnya

9
Saya sangat tertarik dengan Tobi eye tracker yang mampu mendeteksi perhatian atau fokus siswa kepada media pembelajaran. Alat ini menurut saya sangat cocok untuk evaluasi dari sebuat konten pembelajaran berbasis web. Jika dari hasil eye tracker menunjukkan kebingungan siswa maka bisa diubah tampilannya dan navigasinya terus diuji lagi dan seterusnya sampai dengan tergambar bahwa siswa enjoy dengan media belajarnya.
Saya tidak bertanya hanya berpikir saja selama ini ketika kita menelitia media belajar  berbasis web atau mulditemdia  sumber datanya hanya berupa angket kepada siswa, angket guru, orang tua, hasil pekerjaan siswanya. Dengan alat tadi lebih otentik untuk pengembangan media pembelajaran multimedia. perlu kita telusuri adakah di Indoensia alata tersbeut dan perlu kita  coba. Setuju........???

10
Pembelajaran untuk anak usia dini saya sangat setuju melibatkan orang tua dalam belajarnya. mengingat amsa pandemi ini, terkadang guru memberikan tugas memang kepada ornag tua, petunjuk pengerjakaan tugas kepada orang tua sampai dengan mengipload hasil belajar juga melibatkan orang tua. Akhirnya?? Ornag tua merasa bahwa merekalah yanag bersekolah. Mereka berkesusashan dalam membimbing anaknya belajar di rumah.
Tetapi keterlibatannornag tua sangat dibutuhkan dalam pembelajarannya namun kesadaran orang tua masih perlu dipertimbangkana dan diagendakan dalam memahaminya.
1. Apakah dalam jurnal tersbeut terjadi komentar ornag tua (karena yang saya lihat ada kesan siswa dna guru).
2. Jika memang belum tercover dalam jurnal perli diteliti tentang hal tersebut.

11
Gamification memang identif dengan bermain dan kecanduan di mata masyarakat umum.Namun memang ada makna yang sangat bagus di dalamnya yaitu memotivasi belajar siswa. Dalam rancangan elearning di beberapa media platform pembelajaran berbasis It seperti yang banyak di rilis oleh bimbingan belajar online, mereka sudah mengincar dan mengaplikasikan game di dalamnya. Siswa dipicu untuk bermanin game edukasi dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini sangat bagus dalam memotivasi semangat belajar. Namun di sisi lain menurut saya, memang game dampaknya ada ketagihan. Kekhawatiran saya adalah mereka sudah terlanjur senang dengan pembelajaran berbasis game dan suatu saat jika ada pembelajaran yang tidak aberbasis games maka mereka akan tidak termotivasi.
Pertanyaannya
1. Bagaimana mengantisipasi agar siswa tidak kecanduan game pembelajaran ketika mereka suatu saat dihadapkan dengan pembelajaran yang tidak berbasis games?
2. Pembelajaran berbasis games ternyata tidak hanya berlaku bagianak TK dan SD ternyata sampai dengan perguruan tinggi pun masih tertarik untuk mengikutinya.  Bagaiamanakah konsep dasar bagi pembuatan game untuk anak2 dan dewasa
Apakah pertanyaan saya tersebut terjawab dalamjurnal tersbeut? Jika memang tidak ada dalam jurnal akan menajdi PR bagi kita semuanya untuk merancang dan mempelajarinya

12
Mohon maaf, dalam jurnal belum tegambar secara rinci. Namun tergambar bahwa mahasiswa belajar matakuliahnya sesuai dengan keinginan dan taregt belajarnya. Mereka belajar menggunakan modul yang didalamnya ada pembagian materi kuliah yang dapat di pelajarai mahasiswa sesuai dengan hasil pre tesnya
Langkahnya
1. Mahasiswa mengikuti pre tes
2. Mahasiswa menyusun rencana studi berdasarkan hasil pre tes
3. Mahasiswa belajar dengan modul (ada tes praktik)
4. Tes akhir
Tahapan tersebut dilalui mahasiswa belajar dengan menggunakan modul berbasis IT (Learning Management System) yang dapat di atur proses belajarnya untuk menyesuaikan hasil pre tes, hasil rencana studinya. Dalam modul online itu lengkap dengan materi belajar, tes praktik dan tes akhirnya (melihat ilustrasi gambar dan data hasil penelitian)

Demikain terima kasih

13
Mode ini prinsipnya sangat bagus untuk memberikan kesempatan kepada pembelajar. Mereka dapat menentukan sendiri apa yang akan dipelajari. konsepo ini sesuai dengan saat ini yang sedang banyak dibicarkan yaitu meredeka belajar. Pastinya tantangan akan muncul. Mereka akan lebih merasa memiliki  dan tertantang dengan apa yang sedang dan akan dipelajarinya. Bagi mereka yang belum terbiasa merekamemang akan merasa kesulitan bahkan mungkin bingung apa yang harus dikerjakan.
Seperti halya dalam hasil penelitian tersebut amsih ada yang merasa kesulitan mengikutinya.Hal ini wajar namun jika itu tersu dikembangkan dan dibelajarkan maka akan lebih mudah dan memebrikan peluang kenyamana dalam belajar mereka sesuai dengan keinginannya.

Pages: [1]